Shariah Life

Live Under The Islamic Shariah

Pembiayaan Bank Syariah

Posted by shariahlife on January 16, 2007

Tulisan: M. Syafii Antonio, MSc

I. Pendahuluan

Pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank, yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan defisit unit. Menurut sifat pengguna-annya, pembiayaan dapat dibagai menjadi:
a. Pembiayaan produktif, yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas, yaitu untuk peningkatan usaha, baik usaha produksi, perdagangan, maupun investasi
b. Pembiayaan konsumtif, yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, yang akan habis diguna-kan untuk dipakai memenuhi kebutuhan.

Menurut keperluannya, pembiayaan produktif dapat dibagi menjadi:
1. Pembiayaan modal kerja, yaitu pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan (1) peningkatan produksi, baik secara kuantitatif, yaitu jumlah hasil produksi, maupun secara kualitatif, yaitu peningkatan kualitas atau mutu hasil produksi; dan (2) untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility of place dari suatu barang.
2. Pembiayaan investasi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan barang-barang modal (capital goods) serta fasilitas-fasilitas yang erat kaitannya dengan itu.

II. Pembiayaan Modal Kerja

Unsur-unsur modal kerja terdiri dari komponen-komponen alat likuid (cash), piutang dagang (receivable), dan persediaan (inventory) yang umumnya terdiri dari persediaan bahan baku (raw material), persediaan barang dalam proses (work in process), dan persediaan barang jadi (finished goods). Oleh karena itu, pem-biayaan modal kerja merupakan salah satu atau kombinasi dari pembiayaan likuiditas (cash financing), pembiayaan piutang (receivable financing), dan pembiayaan persediaan (inventory financing).

Bank konvensional memberikan kredit modal kerja tersebut, dengan cara memberikan pinjaman sejumlah uang yang dibutuhkan untuk mendanai seluruh kebutuhan yang merupakan kombinasi dari komponen-komponen modal kerja tersebut, baik untuk keperluan produksi maupun perdagangan untuk jangka waktu tertentu, dengan imbalan berupa bunga. Bank syariah dapat membantu memenuhi seluruh kebutuhan modal kerja tersebut, bukan dengan meminjamkan uang, melainkan dengan menjalin hubungan partnership dengan nasabah, di mana bank bertindak sebagai penyandang dana (shahibul maal), sedang-kan nasabah sebagai pengusaha (mudharib). Skema pembiayaan semacam ini disebut dengan mudharanah (trust financing). Fasilitas ini dapat diberikan untuk jangka waktu tertentu, sedangkan bagi hasil dibagi secara periodik dengan nisbah yang disepakati. Setelah jatuh tempo, nasabah mengembalikan jumlah dana tersebut beserta porsi bagi hasil (yang belum dibagikan) yang menjadi bagian bank.

1. Pembiayaan Likuiditas (Cash Financing)
Pembiayaan ini pada umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang timbul akibat terjadinya ketidaksesuaian (mismatched) antara cash inflow dan cash outflow pada per-usahaan nasabah. Fasilitas yang biasanya diberikan oleh bank konvensional adalah fasilitas cerukan (overdraft facilities) atau yang biasa disebut kredit rekening koran. Atas pemberian fasilitas ini bank memperoleh imbalan manfaat berupa bunga atas jumlah rata-rata pemakaian dana yang disediakan dalam fasilitas tersebut.

Bank syariah dapat menyediakan fasilitas semacam itu dalam bentuk qardh timbal balik atau yang disebut compensating balance. Melalui fasilitas ini nasabah harus membuka rekening giro, dan bank tidak memberikan bonus atas giro tersebut. Bila nasabah mangalami situasi mismatched, nasabah dapat menarik dana melebihi saldo yang tersedia sehingga menjadi negatif sampai maksimum jumlah yang disepakati dalam akad. Atas fasilitas ini, bank tidak dibenarkan meminta imbalan apa pun, kecuali sebatas biaya administrasi pengelolaan fasilitas tersebut.

2. Pembiayaan Piutang (Receivable Financing)
Kebutuhan pembiayaan ini timbul pada perusahaan yang men-jual barangnya dengan kredit, tetapi baik jumlah maupun jangka waktunya melebihi kapasitas modal kerja yang dimilikinya. Bank konvensional biasanya memberikan fasilitas berupa:

i. Pembiayaan Piutang (Receivable Financing)
Bank memberikan pinjaman dana kepada nasabah untuk mengatasi kekurangan dana karena masih tertanam dalam piutang. Atas pinjaman itu bank meminta cessie atas tagihan nasabah tersebut. Pada dasarnya nasabah ber-kewajiban untuk menagih sendiri piutangnya. Tetapi, bila bank merasa perlu, dengan menggunakan cessie tersebut bank berhak untuk menagih langsung kepada pihak yang berhutang. Hasil penagihan tersebut pertama-tama diguna-kan untuk membayar kembali pinjaman nasabah berikut bunganya, dan selebihnya dikreditkan ke rekening nasabah. Bila ternyata piutang tersebut tidak tertagih, maka nasabah wajib membayar kembali pinjaman tersebut berikut bunganya kepada bank.

ii. Anjak Piutang (Factoring)
Fasilitas ini diberikan oleh bank dalam bentuk peng-ambilalihan piutang nasabah. Untuk keperluan tersebut nasabah mengeluarkan draf (wesel tagih) yang diaksep oleh pihak yang berhutang, atau promissory notes (promes) yang diterbitkan oleh pihak yang berhutang, kemudian di-endors oleh nasabah. Draf atau promes tersebut lalu dibeli oleh bank dengan diskon sebesar tingkat bunga yang berlaku atau disepakati untuk jangka waktu yang tertera pada draf atau promes tersebut. Bila pada saat jatuh tempo draf atau promes tersebut ternyata tidak tertagih, maka nasabah wajib membayar kepada bank sebesar nilai nominal draf tersebut.

Bagi bank syariah, untuk kasus pembiayaan piutang se-perti tersebut di atas hanya dapat dilakukan dalam bentuk al qardh di mana bank tidak boleh meminta imbalan, kecuali biaya administrasi. Untuk kasus anjak piutang, bank dapat memberikan fasilitas pengambil-alihah piutang, yaitu yang disebut hiwalah. Tetapi untuk fasilitas ini pun bank tidak dibenarkan meminta imbalan kecuali biaya layanan atau biaya administrasi dan biaya penagihan. Dengan demikian, bank syariah meminjamkan uang (qardh) sebesar piutang yang tertera dalam dokumen piutang (wesel tagih atau promes) yang diserahkan kepada bank – tanpa potongan. Hal itu adalah bila ternyata pada saat jatuh tempo hasil tagihan itu digunakan untuk melunasi hutang nasabah kepada bank. Tetapi bila ternyata piutang tersebut tidak ditagih, maka nasabah harus membayar kembali hutangnya itu kepada bank. Selain itu, sebagian ulama memberikan jalan keluar berupa pembelian surat hutang (bai’ al dayn), tetapi sebagian ulama melarangnya .

3. Pembiayaan Persediaan (Inventory Financing)
Pada bank konvensional dapat kita jumpai adanya kredit modal kerja yang dipergunakan untuk mendanai pengadaan persediaan (inventory financing). Pola pembiayaan ini pada prinsipnya sama dengan kredit untuk mendanai komponen modal kerja lainnya, yaitu memberikan pinjaman dengan bunga.

Bank syariah mempunyai mekanisme tersendiri untuk me-menuhi kebutuhan pendanaan persediaan tersebut, yaitu antara lain dengan menggunakan prinsip jual-beli (al bai’) dalam dua tahap. Tahap pertama, bank mengadakan (membeli dari suplier secara tunai) barang-barang yang dibutuhkan oleh nasabah. Tahap kedua, bank menjual kepada nasabah pembeli dengan pembayaran tangguh dan dengan mengambil keun-tungan yang disepakati bersama, antara bank dengan nasabah. Ada beberapa skema jual-beli yang dipergunakan untuk meng-approach kebutuhan tersebut yaitu:

i. Bai’ al Murabahah
Pembiayaan persediaan dalam usaha produksi terdiri dari biaya pengadaan bahan baku dan penolong. Melalui proses produksi, bahan baku tersebut akan menjadi barang setengah jadi, kemudian menjadi barang jadi yang siap untuk dijual. Bila barang jadi itu dijual dengan kredit, ia berubah menjadi piutang, dan melalui proses collection akan berubah menjadi kas kembali.

Pembiayaan ini juga dapat diberikan kepada nasabah yang hanya membutuhkan dana untuk pengadaan bahan baku dan bahan penolong. Sementara itu, biaya proses produksi dan penjualan, seperti upah tenaga kerja, biaya pengepakan, biaya distribusi, serta biaya-biaya lainnya dapat ditutup dalam jangka waktu sesuai dengan lamanya perputaran modal kerja tersebut, yaitu dari pengadaan persediaan bahan baku, sampai terjualnya hasil produksi, dan hasil penjualan diterima dalam bentuk tunai (cash).

ii. Bai’ al Istishna’
Bila nasabah juga membutuhkan pembiayaan untuk pro-ses produksi sampai menghasilkan barang jadi, bank dapat memberikan fasilitas bai’ al istishna’. Melalui fasilitas ini bank melakukan pemesanan barang dengan harga yang disepakati kedua belah pihak (biasanya sebesar biaya pro-duksi ditambah keuntungan bagi produsen, tetapi lebih rendah dari harga jual) dan dengan pembayaran di muka secara bertahap, sesuai dengan tahap-tahap proses produksi. Setiap selesai satu tahap, bank meneliti spesifikasi dan kualitas work in process tersebut, kemudian melakukan pembayaran untuk proses tahap berikutnya, sampai tahap akhir dari proses produksi tersebut hingga berupa bahan jadi. Dengan demikian, kewajiban dan tanggung jawab pengusaha adalah keberhasilan proses produksi tersebut sampai menghasilkan barang jadi sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang telah diperjanjikan. Bila produksi gagal, pengusaha berkewajiban menggantinya, apakah dengan cara memproduksi lagi ataupun dengan cara membeli dari pihak lain.

Setelah barang selesai, maka produk tersebut statusnya menjadi milik bank. Tentu saja bank tidak bermaksud membeli barang itu untuk dimiliki, melainkan untuk segera dijual kembali dengan mengambil keuntungan. Pada saat yang kurang lebih bersamaan dengan proses pemberian fasilitas bai’ al istishna’ tersebut, bank juga te-lah mencari potential purchaser dari produk yang dipesan oleh bank tersebut. Dalam praktiknya, potential buyer tersebut telah diperoleh nasabah. Kombinasi pembelian dari nasabah produsen dan penjualan kepada pihak pem-beli itu menghasilkan skema pembiayaan berupa istishna’ paralel atau istishna’wal murabahah, dan bila hasil produksi tersebut disewakan, skemanya menjadi istishna’ wal ijarah. Bank memperoleh keuntungan dari selisih harga beli (istishna’) dengan harga jual (murabahah atau dari hasil sewa (ijarah).

iii. Bai’ as Salam
Untuk produksi yang prosesnya tidak dapat diikuti, seperti produksi pertanian, bank dapat memberikan fasili-tas bai’ al salam. Melalui fasilitas ini bank melakukan pemesanan barang kepada nasabah dengan pembayaran di muka secara sekaligus, dan nasabah berkewajiban men-deliver barang tersebut pada tanggal yang disepakati dalam kontrak. Pada waktu yang bersamaan bank dapat mencari pembeli atas produk tersebut. Kombinasi ini disebut salam paralel.

Bila produksi itu dilakukan secara terus-menerus dan perputaran modal kerja tersebut telah sedemikian secepatnya sehingga nasabah memerlukan pembiayaan modal kerja secara evergreen, maka skema pembiayaan yang paling tepat adalah al mudharabah.

4. Pembiayaan Modal Kerja untuk Perdagangan

i. Perdagangan Umum
Perdagangan umum adalah perdagangan yang dilaku-kan dengan target pembeli siapa saja yang datang membeli barang-barang yang telah disediakan di tempat penjual, baik pedagang eceran (retailer) maupun pedagang besar (whole seller). Pada umumnya perputaran modal kerja (working capital turnover) perdagangan semacam ini sangat tinggi, tetapi pedagang harus mempertahankan sejumlah persediaan yang cukup, karena barang-barang yang dijual itu sebatas jumlah persediaan yang ada atau telah dikuasai penjual. Untuk pembiayaan modal kerja perdagangan jenis ini skema yang paling tepat adalah skema mudharabah.

ii. Perdagangan Berdasarkan Pesanan
Perdagangan ini biasanya tidak dilakukan atau diselesai-kan di tempat penjual, yaitu seperti perdagangan antarkota, perdagangan antarpulau, atau perdagangan antarnegara. Pembeli terlebih dulu memesan barang-barang yang dibutuhkan kepada penjual berdasarkan contoh barang atau daftar barang serta harga yang ditawarkan. Biasanya pembeli hanya akan membayar apabila barang-barang yang dipesan telah diterimanya. Hal ini untuk menghindari kemungkinan risiko akibat ketidakmampuan penjual memenuhi pesanan, atau ketidaksesuaian jumlah dan kualitas barang yang dikirimkan dengan spesifikasi yang dimaksud dalam surat penawaran atau pemesanan.

Berdasarkan pesanan itu penjual lalu mengumpulkan barang-barang yang diminta, dengan cara membeli atau memesan, baik dari produsen maupun dari pedagang lainnya. Setelah terkumpul, barulah dikirimkan kepada pembeli sesuai pesanan. Apabila barang telah dikirim, maka penjual juga menghadapi kemungkinan risiko tidak dibayarnya barang yang dikirimnya itu. Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi kedua belah pihak, bank konvensional telah memberikan jalan keluarnya, yaitu fasilitas letter of credit (L/C). Bank syariah telah dapat mengadopsi mekanisme L/C itu dengan meng-gunakan skema al wakalah, al musyarakah, al mudha-rabah, ataupun al murabahah. Dalam hal al wakalah, bank syariah hanya memperoleh pendapatan berupa fee atas jasa yang diberikannya.

III. Pembiayaan Investasi

Pembiayaan investasi diberikan kepada para nasabah untuk keperluan investasi, yaitu keperluan penambahan modal guna mengadakan rehabilitasi, perluasan usaha, ataupun pendirian proyek baru.

Ciri-ciri pembiayaan investasi adalah:
1. Untuk pengadaan barang-barang modal;
2. Mempunyai perencanaan alokasi dana yang matang dan terarah;
3. Berjangka waktu menengah dan panjang

Pada umumnya, pembiayaan investasi diberikan dalam jumlah besar dan pengendapannya cukup lama. Oleh karena itu, perlu disusun proyeksi arus kas (projected cash flow) yang mencakup semua komponen biaya dan pendapatan sehinga akan dapat diketahui berapa dana yang tersedia setelah semua kewajiban terpenuhi. Kemudian, barulah disusun jadwal amortisasi yang merupakan angsuran (pembayaran kembali) pembiayaan.

Penyusunan proyeksi arus kas ini harus disertai pula dengan perkiraan keadaan-keadaan pada masa yang akan datang, me-ngingat pembiayaan investasi memerlukan waktu yang cukup panjang. Untuk memperkirakannya perlu diadakan perhitungan dan penyusunan proyeksi neraca dan rugi laba (projected balance sheet and projected income statement) selama jangka waktu pem-biayaan. Dari perkiraan itu akan diketahui kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba (earning power) dan kemampuan per-usahaan untuk memenuhi kewajibannya (solvency). Melihat luasnya aspek yang harus dikelola dan dipantau, maka untuk pembiayaan investasi bank syariah menggunakan skema musyarakah mutanaqishah. Dalam hal ini bank memberikan pembiayaan dengan prinsip penyertaan, dan secara bertahap bank melepaskan penyertaannya, dan pemilik perusahaan akan mengam-bil alih kembali, baik dengan menggunakan surplus cash flow yang tercipta maupun dengan menambah modal, baik yang berasal dari setoran pemegang saham yang ada ataupun dengan mengundang pemegang saham baru.

Skema lain yang dapat digunakan oleh bank syariah adalah al ijarah al muntahia bittamlik, yaitu menyewakan barang modal dengan opsi diakhiri dengan pemilikan. Sumber perusahaan untuk pembayaran sewa ini adalah amortisasi atas barang modal yang bersangkutan, surplus, dan sumber-sumber lain yang dapat diper-oleh perusahaan.

IV. Pembiayaan Konsumtif

Pembiayaan konsumtif diperlukan oleh pengguna dana untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan akan habis dipakai untuk me-menuhi kebutuhan tersebut. Kebutuhan konsumsi dapat dibedakan atas kebutuhan primer (pokok atau dasar) dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer adalah kebutuhan pokok, baik berupa barang, seperti makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal, maupun berupa jasa, seperti pendidikan dasar dan pengobatan. Sedangkan kebutuhan sekunder adalah kebutuhan tambahan, yang secara kuan-titatif maupun kualitatif lebih tingi atau lebih mewah dari kebutuhan primer, baik berupa barang, seperti makanan dan minuman, pakaian/ perhiasan, bangunan rumah, kendaraan, dan sebagainya, maupun berupa jasa seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, pariwisata, hiburan, dan sebagainya.

Pada umumnya, bank konvensional membatasi pemberian kredit untuk pemenuhan barang tertentu yang dapat disertai dengan bukti kepemilikan yang sah, seperti rumah dan kendaraan bermotor, yang kemudian menjadi barang jaminan utama (main collateral). Sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan jasa, bank meminta jaminan berupa barang lain yang dapat diikat sebagai collateral. Sumber pembayaran kembali atas pembiayaan tersebut berasal dari sumber pendapatan lain, dan bukan dari eksploitasi barang yang dibiayai dari fasilitas ini.

Bank syariah dapat menyediakan pembiayaan komersil untuk pemenuhan kebutuhan barang konsumsi dengan menggunakan skema:
1. Al bai’ bi tsaman ajil (salah satu bentuk murabahah) atau jual-beli dengan angsuran
2. Al ijarah al muntahia bit tamlik atau sewa beli
3. Al musyarakah mutanaqhishah atau descreasing participation, di mana secara bertahap bank menurunkan jumlah partisipa-sinya
4. Ar Rahn untuk memenuhi kebutuhan jasa.

Pembiayaan konsumsi tersebut di atas lazim digunakan untuk pemenuhan kebutuhan sekunder. Sedangkan kebutuhan primer pada umumnya tidak dapat dipenuhi dengan pembiayaan komersil. Seseorang yang belum mampu memenuhi kebutuhan pokoknya tergolong fakir atau miskin, dan oleh karena itu ia wajib diberikan zakat atau shadaqah, atau maksimal diberikan pinjaman kebajikan (al qardh al hasan), yaitu pinjaman dengan kewajiban pengembalian pinjaman pokoknya saja, tanpa imbalan apa pun.

sumber : Tazkia Cendekia

35 Responses to “Pembiayaan Bank Syariah”

  1. ui said

    ass…
    sy hndak mngajukan pinjaman bank u/ kperluan membuka warnet.
    trpikir u/ mnambah modal dgn pinjam k bank syariah.

    apa saja syarat2 yg hrs dipenuhi?
    brp % bunga pd bank2 syariah di indonesia?
    kira2 sy hndak mminjam 60-70 jt dgn agunan rumah.

    mohon pencerahannya…

  2. M. Imam Purwadi said

    sy ingin info lebih banyak lagi mengenai pelaksanaan pembiayaan dalam bangk syariah, terutama pada pembiayaan qardh al hasan.
    sy sedang mengiukuti program doktor. mohon bantuannya,, trims.

  3. Abdul Honi said

    Saya berencana sewa area / lahan kerja milik BUMN dimana statusnya saat ini dijaminkan ke Bank syariah mandiri and bank bukopin. Bagaimana securitas saya untuk menyewa lahan tersebut.

    thanks,

  4. Eka Riyadi said

    apa saja syarat2 yg hrs dipenuhi?
    brp % bunga pd bank2 syariah di indonesia?
    kira2 sy hndak mminjam 60-70 jt dgn agunan rumah.

  5. YOGA HARIAWAN said

    Saya ingin bertanya bagaimana caranya memperoleh pembiayaan pembelian asset tetap seperti mobil, motor, gedung, dan lain-lain lewat bank syariah tetapi saya membayarnya secara angsuran? Apakah lewat akad murabahah dan jika lewat akad murabahah apakah penetapan besarnya angsuran dengan sistem required profit rate sama halnya dengan penetapan besarnya angsuran berbasis bunga yang dilakukan perusahaan leasing atau bank konvensional? Terimakasih

  6. saya seorang karyawan swasta di Tangerang, saya ingin membuka usaha peternakan,tempat lahan sudah tersedia, saya ingin pinjam modal untuk mememulai usaha tersebut sekitar 100 juta, untuk itu apakah bank syariah dapat membantunya, ada pertanyaan ?
    >persyaratan apa yang harus dipenuhi
    >berapa bunga pertahun
    >Angunnan rumah apakah bisa mendapat pinjaman 100 jt (harga rumah lebih dari 100 Jt)

  7. adnan said

    sy ingin tau dasar2 hkum ttg syikah mutanaqishah…
    apakah sdh dperbolehkn oleh mui/dsn??
    serta bank syariah apa saja yg sdh mnrpkn konsep syikah mutanaqishah??
    thanks…

  8. fatimah said

    sy ingin tau mengenai pembiayaan qardh,sdh sejauh mnkh prakteknya pd prbankn syariah saat ini?mohon penjelasannya…trimakasih

  9. Hasbullah said

    Dear sir/madam,

    Dengan hormat,
    Nama saya Hasbullah Zuhri, ST, 31 tahun, profesi sebagai PNS di Sebuah Instansi pemerintah LPND BMG di Belawan Sumatera Utara.

    Saya tertarik untuk mengajukan pembiayaan syariah, adapun tujuan pinjaman adalah untuk usaha kebun Kelapa Sawit.

    Pinjaman yang ingin saya ajukan sebesar Rp. 300 juta (tiga ratus juta rupiah) jangka 15 tahun untuk usaha tersebut.

    Mohon keterangan lebih lanjut, terima kasih.

    Best regard,
    Hasbullah Zuhri, ST.
    HP: +62819894327
    email: zuhri05@yahoo.co.id

  10. rizm said

    ulasan tentang Kafalah dan kontroversinya ga ada ya?

  11. Suhambali S.Pd said

    Ass, saya ingin sekali memulai usaha sablon digital dan saya sudah punya paska pasar yang cukup luas untuk keperluan itu saya ingin meminjam modal sebesar Rp.25.000.000, mohon informasi lebih lanjut. Wassalam

  12. om ded's said

    kalo saya mau perlu perluasan usaha photocopy dan perlengkapan sekolah perlu modal Rp. 15.000.000 ini juga sudah ada penawaran di mandiri konvesional tapi saya nga berminat mau pindah kesyariah saja mudah-mudahan barokah usaha saya gimana acaranya mengajukan kredit catatan dimandiri saya dapat pinjaman Rp. 8.000.000,- sekarang Alhamdulillah sudah lunas

  13. om ded's said

    tolong jawabannya kirim ke reza.dedi@yahoo.com

  14. Van said

    Pa untuk pengajuan kredit untuk usaha sekitar 100 – 200 jta apa saja syarat yg diperlukan
    Saya punya agunan rumah dengan taksiran 1-2 M
    Tks

  15. rokai said

    saya ingin mengajukan pinjman sebesar 100juta untuk membuka usaha warnet
    pertnyaan:
    1.saya meminjam dengan jaminan tanah seluas 100m2
    2.berapa persen pembagian laba
    3.syarat apa saja yang harus di lengkapi
    4.mohon penjelasan nya

    trmkasih

  16. band said

    tolong info untuk peminjaman….trms

  17. keliek said

    kalo di syariah bs pinjaman konsumtif gak ya

  18. wie ahmad said

    1, bagamana cara menghitung kisaran bagi hasil dalam suatu
    2, pembiayaan musyarakah,,,??
    apa saja syrat mengajukan kredit pada bank syariah bagi kreditur baru,,,,?

  19. agung said

    “hallo, mu nanya

    kalo mu pinjam dana, dengan jaminan sertifikat atas nama orang tua bisa tidak?
    kalo bisa, syarat2 yang harus dipenuhi apa saja?terima kasih.

  20. ariwahju said

    Setiap pertanyaan… tidak ada jawabannya ya.

  21. wisnu said

    Saya ingin mengajukan pinjaman sebesar Rp 30.000.000,apa saja persyaratannya?

  22. muhammad saifi said

    ass,,,

    aku iigi menanyakan konsep syirkah pada bank muamalah?

  23. Fibrinne kamaludin andrian said

    saya memiliki ladang karet +- 2 ha sk camat pengfhasilan saya antara lain :
    1.karet 1,5 jt /bln
    2. shooting dan handy cam minimal 2 kali dalm sebulan 700.000
    3.teknisi komputer 300.000
    4.pengajar 800.000
    5.bisnis pembayaran listrik on-line
    tahun 2009 saya telah mengajukan pinjaman di bank syariah sumut,jujur saja pada tahu tersebut saya belum ada pembayaran listrik on-line tetap waktu disurvey kami dianggap gagal karena saya tidak memiliki rumah sendiri dan masih bersama orang tua. mohon di bantu untuk usaha kami semoga allah menolong hambanya

  24. budi yuwono said

    ga ada ulasannya..mau bertanya, tp pertanyaan2 dari rekan2 ga di jawab..

  25. anwar said

    Saya ingin renovasi rumah bisakah pinjam di bank syariah bagaimana syarat2 nya

  26. miphz said

    Saya pernah mendengar kutipan perkataan seseorang di televisi, tampaknya beliau adalah seorang pakar. Ia mengajukan sebuah pertanyaan retoris, “Orang gila mana yang mau ngasih pinjaman uang ke orang lain yang usahanya itu nggak ada?” Saya tidak tau Ia berbicara dalam konteks apa, karena saya hanya mendengar sekilas. Tapi yang saya tangkap ini adalah sindiran kepada mereka yang ingin mendapatkan pembiayaan, apakah itu sebagai modal untuk memulai sebuah usaha, atau pembiayaan dalam hal lainnya. Intinya, saya menyimpulkan kalau ingin mengajukan kredit modal usaha ke Bank, kita harus menjalankan usaha itu terlebih dahulu.

    http://themiphz.wordpress.com/2010/08/21/pengalaman-pertama-pengajuan-kredit-dibank-syariah-mandiri/

  27. Alvha389 said

    Asslamu’alikum pak,

    Mohon penjelasannya terkait dengan bunga bank atau bagi hasil dalam perbankan syariah.
    sebenarnya, konsep bagi hasil dalam perbankan syariah itu sama saja kan dengan bank konvensional pada umumnya?
    Terima kasih untuk jawabannya.

  28. suhendar said

    assalamu’alaikum…
    terimakasih untuk informasinya dalam artikel anda..artikel anda sangat membantu saya..

  29. syukron bapak atas informasinya.. salam silaturrahim…

  30. jaket kulit…

    […]Pembiayaan Bank Syariah « Shariah Life[…]…

  31. bamz said

    bunga……?
    bagi hasil…….?
    perbadaan yg paling siknifikan terdpAT Pada bagian pa y…?
    keduanya kan sma-sama mencari untung kan?
    apa hanya beda istilah n penerapannya sama?

    thank’s please reply nya y
    ..?

  32. Saat ini pembiayaan syariah memang pilihan tepat untuk memenuhi kebutuhan keuangan

  33. […] Pembiayaan bank syariah « shariah life […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: