Shariah Life

Live Under The Islamic Shariah

Peluang Bank Syariah Menggerakkan Sektor Riel

Posted by shariahlife on January 16, 2007

Tulisan Oleh : Achmad Baraba (mantan praktisi Bank Syariah, konsultan pada Prasetio Utomo-Andersen)

Sampai hari ini dunia perbankan masih digugat oleh berbagai pihak karena belum dapat menjalankan fungsi utamanya sebagai penggerak roda perekonomian secara optimal sebagaimana diharapkan atau yang lebih dikenal sebagai fungsi intermediasi.

Hal ini tergambar dari rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga masih berkisar pada angka dibawah 40 % , jauh dibawah standar yang ditetapkan Bank Indonesia untuk ukuran tingkat kesehatan bank. Padahal salah satu tujuan Rekapitalisasi Perbankan adalah untuk menjadikan bank-bank sehat setidaknya dari ukuran kecukupan modal sehingga kembali dapat beroperasi sebagai katalis pemulihan ekonomi yang pada giliran nya akan memulihkan kondisi sosial ekonomi secara bertahap dan terarah.

Salah satu penyebab krisis ekonomi yang berkepanjangan dan bahkan menjadi krisis multidimensi adalah tidak kokohnya landasan etika bisnis yang dibangun dimasa lalu bahkan bisa dibilang hampir dikatakan terjadi erosi moral diberbagai lapisan atau strata sosial baik formal maupun informal. Kasus KKN menjadi perbincangan umum dan bahkan seolah menjadi suatu yang sudah sangat sulit jangankan dihilangkan sekalipun hanya ingin mengurangi. Perbedaan terletak pada cara dan gaya saja antara rezim “Orba” dan rezim “Reformis” yang ujung-ujungnya tetap menempatkan Indonesia masih dalam posisi diatas dalam urutan negara paling korup didunia dibanding dengan Cina yang sudah mulai secara serius memberantas KKN tersebut sesuai dengan hasil survey PERC yang berpusat di Hongkong baru-baru ini.

Upaya pemulihan sektor perbankan seringkali terlihat berhadapan dengan kondisi yang memang sudah sangat parah sehingga penyelesaian bank yang sudah di BBO, BBKU, BTO maupun BDL khususnya terhadap pemilik lama menghadapi berbagai kendala tehnis maupun non tehnis khususnya perbenturan kepentingan yang luar biasa besar dan sarat dengan muatan politis. Disisi lain bank-bank yang sudah direkap atau yang tidak direkap dapat berjalan sebagai bank secara”artifisial” artinya fungsi bank sebagaimana dikehendaki oleh UU Perbankan belum dapat berjalan secara optimal karena bank-bank dengan berbagai alasan masih lebih suka menyimpan dananya di SBI dengan suku bunga yang memang secara sengaja dibuat attractive dengan alasan klasik dalam rangka pengendalian moneter khususnya tingkat inflasi.

Kontroversi antara sektor moneter dan sektor riel dalam penentuan kebijakan makro ekonomi tidak akan pernah terselesaikan selama ketakutan akan kenaikan jumlah uang yang beredar akibat dibukanya secara lebar-lebar kran kredit dari perbankan dianggap hanya akan menaikkan tingkat inflasi tanpa pernah diperhitungkan disisi lain toh pemerintah suka atau tidak suka harus menaikkan berbagai tarif dan harga barang-barang publik seperti BBM, Listrik dll dalam rangka menekan defisit APBN yang pada gilirannya akan menjadi “cost push inflation”, artinya perlu dikaji secara mendalam kegigihan otoritas moneter mempertahankan tingkat sukubunga yang tinggi apa benar secara praktis menjadi solusi terbaik.

Dari situasi ekonomi yang terkesan “deadlock” tersebut meskipun nyatanya perekonomian tetap bergerak terbukti dengan pertumbuhan yang mencapai lebih dari 3% untuk tahun 2001 akibat masih adanya sisa kekuatan riel pada masyarakat khususnya UKM sehingga masih dapat memicu pertumbuhan meskipun kecil , menyebabkan perlunya langkah – langkah yang lebih berani untuk menyiasati kondisi tsb. agar tidak berkelanjutan karena kapasitas ekonomi tidak dapat ditingkatkan akibat ekspansi ekonomi tidak menemukan bahan bakar yang pas untuk tujuan menggerakkan sektor riel.

Dalam hal ini sebenarnya yang belum disadari atau mungkin dilupakan banyak pihak khususnya pengambil kebijakan ekonomi adalah adanya Bank Syariah yang beroperasi dengan tujuan utama menggerakkan perekonomian secara produktif dan akan sungguh-sungguh menjalankan fungsi sebagai intermediasi karena secara syariah tugas bank selaku mudharib (pengelola dana) harus menginvestasikan pada sektor ekonomi secara riel untuk kemudian berbagi hasil dengan pemilik dana (sahibul mal) sesuai dengan nisbah yang disepakati. Hal ini terbukti meskipun market share Bank Syariah masih sangat kecil ( kurang dari 1 % ) namun rasio pembiayaan dengan dana pihak ketiga lebih dari 100 % yang berarti sungguh –sungguh menjalankan fungsi intermediasinya.

Masih kecilnya market share tsb.disebabkan antara lain bank syariah mempunyai keterbatasan dana baik dari segi permodalan maupun jumlah dana masyarakat yang berhasil dihimpun karena alasan-alasan :
a) pemahaman masyarakat khususnya ummat terhadap bank syariah masih rendah
b) keterbatasan jaringan dan jenis pelayanan yang dimiliki
c) kurangnya dukungan yang nyata dari kekuatan ummat islam itu sendiri khususnya dari kalangan ulama dan organisasi islam.
d) kurangnya dukungan dari pemerintah dalam hal pendanaan baik dalam bentuk permodalan maupun dalam bentuk penempatan sebagaimana sering dikeluhkan atau tepatnya dicemburukan oleh para pengelola bank syariah.

Namun demikian meskipun terdapat kendala seperti tersebut diatas setidaknya untuk saat sekarang tanpa harus terlalu berharap banyak dari pemerintah mestinya bank syariah dapat mengambil inisiatif sendiri dengan cara-cara yang sesungguhnya menjadi ciri yang menonjol dari keberadaan bank syariah melalui produknya yang dinamakan mudharabah muqayyaddah, yaitu yang secara tehnis dapat digambarkan sebagai berikut :

a) Bank Syariah melakukan studi atas proyek-proyek yang secara ekonomis dapat dipertanggungjawabkan kelayakannya dan membuat studi kelayakan secara proyek per proyek dan dapat dilakukan melalui kerjasama dengan asosiasi pengusaha dan atau lembaga pemerintah seperti Deperidag, Menneg Kop. dan UKM , Depkimpraswil dll.

b) Atas dasar studi kelayakan yang telah dimiliki tersebut maka ditawarkan pada penyandang dana potensial untuk melakukan investasi secara langsung pada proyek tersebut dengan konsep pembiayaan mudharabah muqayyaddah artinya bahwa investasi harus digunakan untuk tujuan seperti yang diusulkan dalam studi kelayakan atau proposal dan kemudian berbagi hasil dan bank syariah akan mendapatkan fee selaku arranger / pengatur dan atau ikut mendapat porsi bagi hasil.

c) Bank syariah untuk dan atas nama investor berhak untuk melakukan monitoring dan pengawasan atas kelancaran proyek tersebut dan kemudian melaporkan kepada penyandang dana / investor sehingga Bank Syariah berfungsi sebagai manajer investasi seperti hal nya Reksa Dana.

d) Penetapan siklus bagi hasil disesuaikan dengan karakteristik dan siklus bisnis proyek yang didanai sehingga tidak harus secara apriori ditetapkan bulanan, triwulanan, semesteran atau tahunan.

e) Dalam perkembangan selanjutnya Bank Syariah dapat mengambil prakarsa untuk mensekuritisasi pembiayaan tersebut sehingga menjadi likuid sepanjang pasar sekunder nya sudah tersedia.

Konsep tersebut diatas sebenarnya juga dapat dilakukan kerjasama antara BPPN dan Bank Syariah khususnya untuk mengatasi problem restrukturisasi kredit UKM yang sedang diperbincangkan Caranya adalah BPPN bersama Bank Syariah (termasuk cabang syariah dari bank konvensional) mengkaji debitur-debitur yang ada dalam pengelolaan BPPN dengan kriteria :
a) Debitur masih mempunyai prospek yang layak secara ekonomis
b) Pemilik dan pengelola dapat dipercaya dan dapat diajak bekerjasama
c) Bila perlu diberikan suntikan pembiayaan baru secara syariah dan diikuti dengan hak untuk mengganti manajemen yang lebih profesional dan kredibel.

Dengan pola itu maka langkah yang harus dilakukan adalah menghapuskan tagihan tunggakan bunga tetapi sepanjang menurut perhitungan yang wajar tidak perlu ada pengurangan pokok maka seluruh sisa hutang pokok dikonversikan menjadi pembiayan mudharabah dengan basis imbalan bagi hasil sehingga tidak terjadi masalah tunggakan bunga yang berlarut-larut.

Untuk menghindari Bank Syariah menjadi kurang sehat karena memiliki portofolio baru dengan kolektibiliti yang kurang baik maka sebaiknya Bank Syriah hanya bertindak sebagai pengelola dan atau manjer investasi sehingga akan dicatat sebagai off balance sheet dalam neraca Bank Syariah. Pola ini sebenarnya tidak terlalu beda dengan apa yang sudah dilakukan oleh BPPN dengan Bank Danamon, Artha Graha maupun Bukopin dan Bank BNI dan kebetulan Bank BNI, Bank Bukopin dan sebentar lagi Bank Danamon sudah mempunyai Unit Usaha Syariah / Cabang Syariah sehingga dapat dipertimbangkan untuk “relokasi” dari dibawah pengelolan konvensional menjadi dikelola secara prinsip syariah.

Diharapkan dengan terobosan tersebut dapat membantu menggerakkan sektor riel kembali dan tidak ada kerugian bagi BPPN bahkan akan memberikan kepercayaan baru dari dunia usaha bagi yang benar-benar ingin menyelesaikan hutangnya tanpa suatu beban tetap (baca : bunga ) yang sudah ditetapkan dimuka dalam situasi yang masih diliputi ketidakpastian. Dengan mencoba konsep tersebut diatas jika ditangani dengan sungguh-sungguh niscaya akan membawa kebaikan bagi semua pihak sesuai dengan konsep bisnis secara syariah yaitu win-win solution bagi yang beritikad baik dan sekaligus membuktikan bahwa islam adalah rahmatan lil alamin.

Wallahualam bishawab.

2 Responses to “Peluang Bank Syariah Menggerakkan Sektor Riel”

  1. Setelah penjelasan tadi, menurut saya memang sudah saatnya perbankan sebagai lembaga intermediasi menjalankan fungsi utamanya sebagai penghimpun dan penyalur dana dari dan ke masyarakat. yang menjadi masalah akhir-akhir ini bahkan untuk ke depannya adalah lemahnya sistem pembiayaan perbankan mayoritas terhadap sektor riil karena kurang lancarnya sirkulasi uang masuk dan keluar di bank. Sebagai contoh pada bank konvensional, bank menerapkan sistem penentuan persenbtase bunga di depan kepada nasabah penyimpan dana sebagai bentuk timbal balik kepada nasabah karena telah mempercayakan dananya untuk disimpan dan disalurkan oleh bank. Bank tentunya ingin mendapatkan spread positif dari persentase bunga yang ditetapkan kepada nasabah peminjam dana untuk mendapatkan keuntungan dan menambah dana likuiditas bank. Untuk itu bank menetapkan persentase bunga pinjaman lebih tinggi daripada bunga simpanan.
    Inilah yang menjadi masalah awal sektor riil dan bisnis bahwa pihak pengusaha tentu akan terus meningkatkan harga produknya untuk menyesuaikan kenaikan marjinal produk akibat kewajiban pembayaran bunga yang tinggi kepada bank yang telah ditetapkan di awal dan cenderung lebih tinggi daripada acuan BI rate. Pengusaha terus meningkatkan harga karena ia tidak ingin hasil penjualannya hanya habis untuk pembayaran bunga tetapi ia ingin mempertahankan konsistensi pendapatannya selama ini bahkan menaikkannya yang akan berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Hal ini yang sering terjadi akhir-akhir ini dimana harga-harga barang dan jasa di pasaran melonjak naik dan sekali lagi kita sebagai konsumen dan rakyat biasalah yang terkena dampaknya.
    Untuk itu dibutuhkan suatu sistem perekonomian dimana selain aspek keuntungan secara individu yang ditingkatkan juga harus diperhatikan aspek sosial dan dampaknya terhadap orang banyak dan negara agar kesejahteraan sosial tercapai dan kondisi makro ekonomi negara dapat pulih dari krisis ekonomi global. Saat ini bank-bank syariah, lembaga multifinance syariah, dan bisnis berbasis syariah sudah mulai berkembang dan penerapannya di atas lembaga konvensional merupakan suatu langkah awal perombakan sistem ekonomi demi kemajuan bangsa karena untuk saat ini tidak mungkin mengibah sistem ekonomi secara total karena pengakuan mayoritas penduduk dunia terhadap sistem ekonomi kapitalis masih kuat dan untuk itu perlu dilakukan lebih banyak lagi sosialisasi ekonomi syariah bahwa inilah sistem ekonomi yang sesuai dengan perintah ALLAH SWT di dalam ALQur’an seperti penghalalan jual beli dan pengharaman riba serta sistem ekonomi yang telah dipraktekan Rasulullah dan telah terbukti mampu memajukan perekonomian pada saat kejayaan islam.
    Majulah ekonomi syariah, kebangkitan islam telah datang, masa depan dan harapan bangsa ada di pundak kita!!!!!CAYO
    By: The Alternate Fighter

  2. wahyu antariksa said

    good

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: