Shariah Life

Live Under The Islamic Shariah

Wadiah

Posted by shariahlife on January 16, 2007

Tulisan: Ikhwan Abidin Basri, MA

Pengertian

a) Bahasa : Meninggalkan atau meletakkan. Yaitu meletakkan sesuatu pada orang lain untuk dipelihara atau dijaga.
b) Istilah : Memberikan kekuasaan kepada orang lain untuk menjaga hartanya/ barangnya dengan secara terang-terangan atau dengan isyarat yang semakna dengan itu.

Landasan Syariah

1. Al-Qur’an a) ” Sesungguhnya Allah telah menyuruh kamu agar menyampaikan amanat kepada ahlinya.” (4 : 58)
b) ” Dan hendaklah orang yang diberikan amanat itu menyampaikan amanatnya” (2: 283)

2. As-Sunnah ” Tunaikanlah amanah yang dipercayakan kepadamu dan janganlah kamu mengkhiatani terhadap orang yang telah mengkhianatimu” . H. R. Abu Dawud dan Tirmidzi.

3. Ijma’ Para ulama daria zaman dulu sampai sekarang telah menyepakati akad wadiah ini karena manusia memerlukannya dalam kehidupan muamalah.

Rukun Wadiah

1. Muwaddi’ ( Orang yang menitipkan).
2. Wadii’ ( Orang yang dititipi barang).
3. Wadi’ah ( Barang yang dititipkan).
4. Shighot ( Ijab dan qobul).

Syarat Rukun

Yang dimaksud dengan syarat rukun di sini adalah persyaratan yang harus dipenuhi oleh rukun wadiah. Dalam hal ini persyaratan itu mengikat kepada Muwaddi’, wadii’ dan wadi’ah. Muwaddi’ dan wadii’ mempunyai persyaratan yang sama yaitu harus balig, berakal dan dewasa. Sementara wadi’ah disyaratkan harus berupa suatu harta yang berada dalam kekuasaan/ tangannya secara nyata.

Sifat akad wadiah

Karena wadiah termasuk akad yang tidak lazim, maka kedua belah pihak dapat membatalkan perjanjian akad ini kapan saja. Karena dalam wadiah terdapat unsur permintaan tolong, maka memberikan pertolongan itu adalah hak dari wadi’. Kalau ia tidak mau, maka tidak ada keharusan untuk menjaga titipan.

Namun kalau wadii’ mengharuskan pembayaran, semacam biaya administrasi misalnya, maka akad wadiah ini berubah menjadi “akad sewa” (ijaroh) dan mengandung unsur kelaziman. Artinya wadii’ harus menjaga dan bertanggung jawab terhadap barang yang dititipkan. Pada saat itu wadii’ tidak dapat membatalkan akad ini secara sepihak karena dia sudah dibayar.

Jenis-jenis Wadiah

1. Wadiah yad amanah Pada keadaan ini barang yang dititipkan merupakah bentuk amanah belaka dan tidak ada kewajiban bagi wadii’ untuk menanggung kerusakan kecuali karena kelalaiannya.
2. Wadiah yad dhomanah. Wadiah dapat berubah menjadi yad dhomanah, yaitu wadii’ harus menanggung kerusakan atau kehilangan pada wadiah, oleh sebab-sebab berikut ini:
a. wadii’ menitipkan barang kepada orang lain yang tidak biasa dititipi barang.
b. wadii’ meninggalkan barang titipan sehingga rusak.
c. memanfaatkan barang titipan.
d. bepergian dengan membawa barang titipan.
e. jika wadii’ tidak mau menyerahkan barang ketika diminta muwaddi’, maka ia harus menanggung jika barang itu rusak.
f. mencamur dengan barang lain yang tidak dapat dipisahkan.

sumber : Tazkia Cendekia

3 Responses to “Wadiah”

  1. puji said

    pengertian wadiah secar detail,,
    sukron

  2. anggie said

    assalamualaikum wr. wb..
    saya masih belum mengerti mengenai akad wadi’ah ini.. jadi saya ingin mengajukan beberapan pertanyaan, mohon dijawab..
    1. bagaimanakah penerapan wadi’ah dalam perbankan islam?
    2. bagaimana dengan hukum yang mengikat wadi’ah?
    3. apakah penerapan wadi’ah dalam perbankan telah sesuai dengan syariah islam?

    syukron..

  3. Muhd Luqman said

    assalamualaikum…
    Saya ada satu soalan,bolehkan bank islam menerima deposit daripada syarikat magnum corperation dan persatuan gereja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: